
Peran Kepala Sekolah dalam Menguatkan Komunitas Belajar untuk Pendidikan Bermutu
Anton, S.Pd., M.Pd,. M.Hum., M.Pd
Kepala SMP Negeri 8 Purwokerto
Pendidikan adalah pilar utama kemajuan bangsa, dan inovasi dalam pembelajaran menjadi kebutuhan mendesak di tengah tantangan zaman. Salah satu terobosan yang digaungkan adalah Komunitas Belajar (Kombel), wadah kolaboratif bagi Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Keberhasilan kombel bergantung pada peran strategis kepala sekolah sebagai nahkoda yang mengarahkan visi pendidikan. Artikel ini menguraikan pentingnya peran kepala sekolah, dengan contoh empiris dari SMP Negeri 3 Kalibagor, Banyumas, yang memperkuat argumen tersebut.
Jantung Transformasi Pendidikan
Komunitas belajar adalah kelompok terstruktur yang bekerja secara terjadwal untuk belajar bersama, berkolaborasi, dan menyelesaikan tantangan pembelajaran. Tujuannya adalah meningkatkan kualitas pembelajaran yang berdampak pada prestasi siswa. Kombel hadir dalam tiga bentuk: dalam sekolah, antar sekolah, dan daring melalui Platform Merdeka Mengajar (PMM). Kombel memungkinkan guru berbagi ide, memberikan umpan balik, dan menerapkan praktik terbaik di kelas.
Fokus kombel terbagi dua: pertama, berpusat pada pembelajaran siswa, menjawab pertanyaan seperti “Apa yang diharapkan siswa pelajari?” dan “Bagaimana kita merespons jika siswa tidak belajar?” Kedua, berpusat pada peningkatan kompetensi GTK. Pendekatan ini didukung teori Professional Learning Community (PLC) (DuFour et al., 2016) dan Community of Practice (CoP) (Wenger-Trayner, 2012).
Mengapa Kepala Sekolah Penting?
Kepala sekolah adalah penggerak utama budaya kolaboratif di sekolah. Tanpa kepemimpinan visioner, kombel berisiko menjadi kegiatan seremonial. Peran strategis kepala sekolah meliputi:
- Pemimpin Pembelajaran: Memahami konsep kombel dan membimbing guru menuju tujuan jelas.
- Inisiator dan Fasilitator: Membentuk tim kecil, menelaah data siswa, dan menetapkan jadwal pertemuan rutin.
- Pendorong Kolaborasi: Mengubah budaya kerja terisolasi menjadi kolaboratif, meringankan beban guru, dan memeratakan kualitas pembelajaran.
- Evaluator dan Reflektif: Memimpin evaluasi berkala untuk memastikan kombel relevan dan efektif.
Seperti pantun inspiratif, “Pasang lampu pakai kabel, kabel dipilih yang masih laik. Mari kita optimalkan kombel, untuk pendidikan yang lebih baik.” Kepala sekolah adalah “kabel” yang menghubungkan visi pendidikan dengan praktik nyata.
Kombel di SMP Negeri 3 Kalibagor, Banyumas
SMP Negeri 3 Kalibagor, Banyumas, sebagai sekolah penggerak, telah menunjukkan keberhasilan pelaksanaan kombel dalam mendukung Kurikulum Merdeka. Pada tahun ajaran 2023/2024, kepala sekolah menginisiasi komunitas belajar bernama ULAMA PETIR (Unggul, Literat, Adaptif, Mandiri, Aktif, dan Produktif) untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Kombel ini difokuskan pada penguatan literasi, numerasi, dan pembelajaran berbasis proyek Profil Pelajar Pancasila (P5).
Kombel ULAMA PETIR mengadakan kegiatan rutin, termasuk webinar bertajuk “Penyusunan Modul Ajar Berdasarkan Hasil Asesmen Awal” untuk mendukung Kurikulum Merdeka. Kegiatan ini melibatkan guru lintas mata pelajaran dan lintas sekolah yang berkolaborasi setiap dua minggu sekali. Para guru menelaah data hasil belajar siswa, khususnya di kelas VII dan VIII. Data asesmen formatif menunjukkan rendahnya kemampuan numerasi siswa, sehingga tim kombel merancang modul ajar berbasis pembelajaran berdiferensiasi, seperti permainan matematika interaktif untuk meningkatkan keterlibatan siswa.
Kepala sekolah memfasilitasi kombel dengan menyediakan waktu khusus setiap Kamis sore dan akses ke PMM untuk pelatihan daring. Salah satu inisiatif unggulan adalah pengembangan proyek P5 bertema kearifan lokal, di mana siswa membuat karya seni berbasis budaya Banyumas, seperti batik motif lokal. Hasilnya, setelah satu semester, nilai rata-rata numerasi siswa kelas VII meningkat 10% dan keterlibatan siswa dalam proyek P5 meningkat 20% berdasarkan laporan observasi guru. Guru juga melaporkan adanya peningkatan kolaborasi, dengan 85% guru merasa lebih percaya diri menerapkan strategi baru. Kombel ULAMA PETIR menjadi wadah berbagi praktik baik dan refleksi, memperkuat kompetensi guru dan dampaknya pada pembelajaran siswa.
Tantangan dan Harapan
Keterbatasan waktu dan resistensi terhadap perubahan muncul di SMP Negeri 3 Kalibagor. Beberapa guru awalnya merasa kombel menambah beban kerja, tetapi kepala sekolah mengatasinya dengan memberikan insentif seperti pelatihan PMM dan pengakuan kontribusi. Platform Merdeka Mengajar memfasilitasi pembelajaran fleksibel melalui sumber daya daring (Kemendikbudristek, 2022).
Kondisi ideal kombel adalah komunitas yang hidup, dengan guru saling mendukung dan siswa merasakan dampaknya. Kepala sekolah dapat mewujudkan ini melalui tahapan: memahami konsep kombel, membentuk tim kecil, menelaah data siswa, menyepakati nilai dan jadwal, serta mengevaluasi hasil.
Menuju Pendidikan yang Lebih Baik
Komunitas belajar adalah kunci transformasi pendidikan Indonesia. Data empiris di SMP Negeri 3 Kalibagor menunjukkan bahwa kepemimpinan kepala sekolah yang proaktif dapat mengubah tantangan menjadi peluang. Kepala sekolah harus menjadi katalis kolaborasi produktif, menciptakan budaya belajar inklusif, dan memastikan siswa mendapatkan pembelajaran terbaik. Dengan komitmen dan visi jelas, kombel dapat menjadikan sekolah sebagai tempat lahirnya ide baru dan masa depan cerah anak-anak Indonesia.
Referensi
- DuFour, R., DuFour, R., Eaker, R., Many, T. W., & Mattos, M. (2016). Learning by Doing: A Handbook for Professional Learning Communities at Work (3rd ed.). Solution Tree Press.
- Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2022). Panduan Pengelolaan Komunitas Belajar dalam Sekolah. Jakarta: Kemendikbudristek.
- Wenger-Trayner, E., & Wenger-Trayner, B. (2012). Communities of Practice: A Brief Introduction. Retrieved from http://wenger-trayner.com/introduction-to-communities-of-practice/.

